Flash News
   
Ukuran Huruf
Bookmark and Share

Sanitasi Lingkungan Buruk, Tifus dan Diare Melonjak

Menjelang musim kemarau, kasus tifus dan diare di Kabupaten Bantul mulai menunjukkan tren meningkat. Salah satu indikasinya adalah lonjakan jumlah pasien kedua penyakit tersebut di Rumah Sakit Umum Panembahan Senopati. Untuk pencegahan, masyarakat diimbau untuk memperbaiki sanitasi lingkungan.



"Dari total kapasitas 200 kamar di Rumah Sakit Umum (RSU) Panembahan Senopati, tingkat okupansinya mencapai 95 persen. Sebagian besar adalah pasien tifus dan diare. Di bangsal anak misalnya, dari 30 pasien, 8 di antaranya menderita diare," kata dr Gandung Bambang Hermanto, Wakil Direktur Bidang Pelayanan RSU Panembahan Senopati, Senin (10/8).

Menurutnya, lonjakan penyakit tifus dan diare mulai terasa sejak akhir bulan Juni atau bertepatan dengan musim kemarau. Kedua penyakit tersebut sangat terkait dengan kebersihan lingkungan sekitar. Pada musim kemarau, produksi debu berlebih dan sebagian masyarakat kekurangan air bersih. Akibatnya, kualitas sanitasi lingkungan menurun.

Untuk penyakit tifus, rata-rata pasien menginap selama 5-7 hari, sementara diare tergantung dengan seberapa parah kondisi pasien. Selain tifus dan diare, penyakit lain yang juga rentan selama kemarau adalah radang paru-paru. "Meski jumlah kasusnya fluktuatif, penyakit ini juga perlu mendapat perhatian," katanya.

Secara terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul dr Siti Noor Zaenab Syech Said mengatakan, tifus disebabkan oleh bakteri. Penyakit ini kebanyakan ditularkan melalui kotoran manusia. Kuman tersebut masuk melalui saluran pencernaan, setelah berkembang biak kemudian menembus dinding usus menuju saluran limfa, dan masuk ke dalam pembuluh darah.

"Supaya tidak terkena, sebaiknya menjaga kebersihan lingkungan. Hindari jajan sembarangan di pinggir jalan. Vaksin khusus tifoid juga bisa diberikan untuk meningkatkan daya tahan tubuh," katanya.

Kembali