Flash News
   
Ukuran Huruf
Bookmark and Share

Penanganan Limbah Domestik di Sekitar Brantas Harus Lebih Serius

Tingginya tingkat pencemaran domestik di sekitar Kali Brantas harus dapat ditangani lebih serius. Pasalnya, pencemaran limbah domestik merupakan sumber pencemaran terbesaar, yakni mencapai 60 persen.

Kepala Bidang Komunikasi Lingkungan dan Peningkatan Peran Serta Masyarakat Badan Lingkungan Hidup (BLH) Jatim, Putu Arthagiri di kantornya, Selasa (4/8) menjelaskan, BLH Jatim sekarang sedang menggalakkan penanganan limbah domestik dan pengolahan sampah dengan melibatkan peran serta masyarakat. Salah satu bentuknya, yakni bentuk bekerja sama dengan LSM Ecoton untuk melatih 30 kader pengolah sampah di kawasan Desa Cangkir dan Desa Driyorejo pada 30 Juli hingga 2 Agustus lalu.

Ia menuturkan, pada pelaksanaan pelatihan tersebut, para peserta dibekali ketrampilan dasar pengolahan sampah dengan metode composting (pengomposan), metode pemilahan dan teknik daur ulang bahan-bahan bekas serta sosialisasi kebijakan pengelolaan sampah.

BLH Jatim akan mendukung dan memberikan konsultasi serta bantuan teknis kepada Desa Cangkir dan Driyorejo dengan melihat kesiapan masing-masing desa untuk melakukan pengolahan sampah. "Kami tidak ingin jika nantinya bantuan teknis berupa instalasi pengolah limbah dan depo-depo kompos nantinya hanya akan menjadi monumen," ujarnya.

Ia menuturkan, pada pelaksanaannya juga dilakukan action learning (belajar dengan melaksanakan) pengolahan sampah dan limbah domestik. Dengan itu diharapkan kedua desa di Gresik itu dapat menjadi desa pelopor pengolahan sampah dan limbah domestik. Selain itu bisa menjadi percontohan bagi desa-desa lainnya di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas.

Dalam kegiatan Action Learning, peserta mengidentifikasi masalah-masalah penanganan sampah dan limbah cair domestik. Dari hasil identifikasi diketahui ada tiga faktor penting yang menyebabkan tidak terkelolanya sampah dan limbah domestik sehingga menimbul kan pencemaran di Kali Brantas.

Tiga faktor itu meliputi elemen pribadi, komunitas, dan pemerintah.Direktur Ekesekutif Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan-lahan Basah (Ecoton), Prigi Arisandi menambahkan, populasi penduduk di dua desa itu mencapai 10.000 jiwa dan menyumbangkan limbah cair dan limbah padat berupa sampah domestik setara dengan limbah industri.

Sementara itu berdasarkan data dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Jawa Timur, limbah cair industri dan limbah cair domestik yang dibuang di Kali Brantas mencapai 150 ton per hari dengan komposisi 60 persen berasal dari limbah domestik dan 40 persen limbah industri. Penanganan limbah industri sekarang juga sedang digalakkan oleh BLH Jatim dengan Perum Jasa Tirta I melalui kegiatan patroli air.

Mulai November 2008 sampai dengan Agustus 2009 ini diketahui terdapat 17 indutri yang telah terjaring oleh tim patroli yang melakukan inspeksi mendadak di Anak Sungai Brantas, yakni Kali Surabaya yang melintasi Gresik, Sidoarjo, dan Surabaya.Adapun ketujuhbelas industri tersebut adalah Samihardi, Gian Santoso, PT SAK, PT Wings Surya, PT Suparma, PT Platinum Ceramics Industry, UD Triningsih, PT Titani Alam Semesta, PT Spindo, Tahu Jambangan, RPH Kota Surabaya, PT Perdamaian Indonesia, PT Jatim Super, PT Miwon, PT Sinar Sosro, PT Gloria Biscuit, dan PT Unimos.

Kembali