Flash News
   
Ukuran Huruf
Bookmark and Share

Inspirasi Pembangunan Sanitasi dari Cimahi

walikota_cimahiTidak banyak kabupaten/kota di Indonesia yang memiliki kepedulian tinggi terhadap sanitasi. Rata-rata sanitasi masih dianggap sebagai sesuatu yang tidak terlalu penting. Ini tercermin dari anggaran yang dikeluarkan tiap tahun dalam APBD.

Tapi tidak demikian dengan Kota Cimahi, Jawa Barat. Kota yang merupakan pemekaran Kabupaten Bandung ini justru menjadikan sanitasi sebagai salah satu sektor yang mendapat perhatian serius. Ini tidak lepas dari komitmen dua walikota yang memimpin kota berpenduduk 600 ribu jiwa lebih itu yakni HM Itoc Tochija (Walikota 2002-2012) dan Hj Atty Suharti Tochija (2012-sekarang).

Bahkan Atty menjadikan sanitasi sebagai program 100 harinya. Ini mungkin satu-satunya kepala daerah yang memiliki program seperti ini. Kenapa? Karena itulah yang dihadapi oleh warga Cimahi. “Makanya, bagi saya melakukan apa yang sedang dibutuhkan masyarakat saat ini itu jauh lebih penting ketimbang pencintraan tanpa arah demi memenuhi 100 hari kerja,” kata Atty di awal terpilihnya sebagai walikota menggantikan suaminya.

Cimahi sejak tahun 1970 menjadi kota industri. Tak heran jika banyak orang datang ke kota ini untuk mencari penghidupan. Makanya, kota ini memiliki kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Di sisi lain banyak masyarakat yang belum memahami tentang pola hidup bersih dan sehat.

"Kami serius dengan sanitasi ini, karena sanitasi sehat kunci menciptakan masyarakat sehat," ujarnya ketika roadshow Aliansi Kabupaten Kota Peduli Sanitasi (AKKOPSI) di Padang Sumatera Barat beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, Pemerintah Kota Cimahi terus meningkatkan program sanitasi yang berbasis masyarakat. “Kami akan terus mengampanyekan pentingnya sanitasi, karena pemahaman masyarakat tentang sanitasi masih kurang,” jelas Walikota.

Atty melihat penyediaan MCK dan septic tank komunal saat ini masih di pandang kurang. Makanya ia berusaha meningkatkan program sanitasi guna menciptakan jamban yang sehat.

Masalah sosial budaya, menurutnya, menjadi tantangannya. Sebagian masyarakat masih terbiasa buang air besar di sembarang tempat. Oleh karena itu, Pemkot menggandeng masyarakat dan para kader untuk memberi kesadaran terhadap masyarakat akan pentingnya hidup bersih dan sehat.

Untuk itu semua, Walikota Cimahi ini mengaku, mengalokasikan Rp 26 miliar untuk pembangunan sanitasi. Anggaran itu sudah mencapai 2 persen dari APBD-nya—syarat minimal yang diminta oleh AKKOPSI.

Perhatian yang besar Walikota Atty tidak lepas dari pendahulunya, Itoc. Sejak awal Cimahi menjadi kota Administratif, ia memiliki kepedulian terhadap sektor ini. Menurutnya, derajat kesehatan lingkungan Kota Cimahi hanya bisa ditingkatkan dengan membangun sanitasi. Wajar, meski sudah tidak menjabat sebagai walikota, Itoc kini menjadi Duta Sanitasi AKKOPSI yang berkeliling ke seluruh Indonesia untuk memberikan advokasi sanitasi kepada pemerintah kabupaten/kota lain.

Ia menjelaskan, berdasarkan data pada tahun 2010, tingkat pelayanan air limbah domestik di Kota Cimahi mencapai 63,14 persen. Selain itu, jamban dan septic tank individual mencapai 67,109 persen dan rumah 61,68 persen. "Sedangkan jumlah MCK dan septic tank telah mencapai 117 (1,108 %) dan septictank komunal baru 7 (0,24)," paparnya. Menurunnya kualitas sanitasi lingkungan, lanjut Itoc, tergambar dari kondisi drainase yang semakin menyempit. Selain itu, perilaku masyarakat dalam membuang limbah, termasuk sampah masih belum baik. Hal itu menyebabkan banjir di sejumlah titik di Kota Cimahi.

Makanya, bagi Atty masalah sanitasi adalah persoalan yang menjadi pekerjaan rumah. Untuk itu ia mendukung keberadaan kelompok kerja (Pokja AMPL) dengan berbagai program yang akan dilaksanakan. Bahkan beberapa pembangunan sarana dan prasarana sanitasi sudah siap dilaksanakan.

Tekad dan semangat walikota inilah yang membuat beberapa calon City Fasilitator (CF) dan Province Fasilitator (PF) terinspirasi untuk mengadvokasi daerah-daerah yang akan menjadi tempat mereka mendampingi Pokja. Dalam pelatihan CF/PF di Jakarta awal Maret lalu, mereka menyadari betul betapa kepedulian eksekutif dalam pembangunan sanitasi sangat penting. Eksekutif yang peduli sanitasi akan mempermulus dan mempercepat pembangunan sanitasi di daerah. Maka, Cimahi bisa menjadi inspirasi. [] MJ