Written by Administrator Thursday, 11 February 2010 09:48
Masalah sanitasi adalah persoalan perilaku. “Mau tak mau kita harus mengubah peradaban masyarakat,” kata Walikota Pekalongan, Jawa Tengah, dr Basyir Ahmad beberapa waktu lalu di
Menurutnya, mengubah peradaban masyarakat bukan persoalan yang mudah. “Perlu komitmen berkesinambungan,” tandasnya.
Pihaknya sendiri mengaku sedang berusaha keras mengatasi masalah ini di wilayahnya. Kota Pekalongan kini menjadi salah satu
Berbagai langkah telah dilakukan. Salah satunya adalah memperkuat kelembagaan. Karenanya ia berharap, pemerintah pusat bisa mendampingi Kota Pekalongan dalam mewujudkan cita-citanya menjadi salah satu
Program sanitasi di Kota Pekalongan dikaitkan dengan program bebas rumah kumuh. Pemkot menargetkan tahun 2010 bebas rumah kumuh dan tak layak huni, setelah nantinya sekitar 5.086 rumah kumuh dibangun.
Ribuan rumah tersebut dikatakan kumuh lantaran tidak dilengkapi fasilitas MCK (mandi cuci kakus), lantainya tidak porselin dan tidak ada ventilasi. Program Pekolangan bebas rumah kumuh itu dimulai tahun 2006 lalu. Setiap tahun pemkot berupaya mendukung perbaikan fasilitas rumah yang dikategorikan kumuh sekitar 1.000 rumah. Dengan bebasnya rumah kumuh itu, Walikota Pekalongan berharap sungai-sungai di Pekalongan pun bersih karena tidak ada lagi yang buang air sembarangan di sungai.
Komitmen Pemkot terhadap sanitasi ini ditunjukkan dengan diraihnya Penghargaan Inovasi Manajemen Perkotaan (IMP) Award di bidang pemberdayaan masyarakat dengan sub bidang manajemen pengelolaan sampah tahun 2009. Kota Pekalongan meraih predikat sebagai
Tak mengherankan bila Kota Pekalongan pun sangat berminat menjadi satu
“Kita akan terus berupaya meningkatkan kualitas sanitasi di Kota Pekalongan. Termasuk di dalamnya penguatan penataan lingkungan dan manajemen pengelolaan sampah,” kata Walikota yang akan berakhir masa tugasnya ini.