Flash News
   
Ukuran Huruf
Bookmark and Share

Musibah Sampah di Hari Sampah Nasional

galugaSabtu pagi (20/2/2010) ratusan siswa SD Negeri Bantarjati 9 Kota Bogor, memperingati Hari Sampah Nasional 2010 di sekolah mereka di Kelurahan Bantarjati, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor. Mereka membaca puisi, benyanyi, menari, dan menampilkan drama singkat, yang temanya mengingatkan betapa indahnya alam dan terpujinya kita jika memelihara kebersihan lingkungan hidup.

Para murid juga mengenakan busana daur ulang yang terbuat dari plastik bekas bungkusan makanan atau produk rumah tangga. Baju itu kreasi para murid dan guru mereka yang dibantu orang tua murid. 

Hadir pada peringatan itu Kepala Bidang Edukasi Kementerian Lingkungan Hidup Jokomala. Ia membacakan sambutan tertulis Deputi VI KLH Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat Hendri Bastaman. Dalam sambutan itu, Bastaman menegaskan bahwa pengelolaan sampah perlu dilakukan komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir. 

Ironisnya, hanya berjarak belasan kilometer dari tempat mereka memperingati Hari Sampah Nasional tersebut, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga di Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, longsor beberapa jam sebelumnya. TPA itu menampung sampah dari Kota Bogor, kota tempat peringatan Hari Sampah itu dilaksanakan dan juga Kabupaten Bogor.

Lima hektar sawah penduduk tertimbun. Beruntung tidak ada korban jiwa karena lokasi TPA itu cukup jauh dari perkampungan. Yang pasti, sawah penduduk gagal panen. Padahal di sawah, padi siap dipanen.

Longsor ini, menurut Kepala Dusun Galuga Jejen Suhanda, akibat volume sampah yang melebihi daya tampung. Sampah menggunung dan pada saat bersamaan turun hujan terus menerus selama hamper sepekan.

Mengulang Leuwigajah

Musibah longsor TPA Galuga ini hampir bertepatan dengan peringatan musibah sampah yang terjadi di Leuwigajah, Kota Cimahi, Jawa Barat, lima tahun sebelumnya. Saat itu 21 Februari 2005, gunungan sampah asal Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung longsor dan menimpa perkampungan penduduk di dua desa. Akibatnya 41 orang tewas.

Tragedi ini kemudian dicanangkan sebagai Hari Sampah Nasional. Tentu, ini dimaksudkan agar semua pihak peduli dengan masalah pengelolaan sampah ini. Lebih jauh lagi, sudah saatnya TPA dikelola secara benar.

Baik TPA Leuwigajah maupun Galuga keduanya masih dikelola dengan sistem open dumping, yakni sampah dihamparkan di suatu tempat terbuka tanpa penutupan dan pengolahan. Karenanya, risiko sistem seperti ini sebenarnya sudah bisa diprediksi jauh hari.

Menurut para ahli, gunungan sampah akan menghasilkan gas metan yang mudah meledak jika beroksidasi dengan udara. Gas berbahaya ini dihasilkan dari proses penguraian sampah-sampah organik. Bila gas ini tidak tidak difasilitasi dengan saluran pembuangan gas (ventilasi) yang aman, maka gas metan yang terjebak dalam tumpukan sampah bisa menimbulkan ledakan bila bercampur dengan udara dan air.

Curah hujan yang terus menerus juga menyebabkan timbunan sampah kian berat. Apalagi jika air hujan itu tidak diserap tanah. Karena tak kuat menahan tekanan inilah maka timbunan sampah runtuh.

Tinggalkan Open Dumping

Sebenarnya semua pemerintah daerah sudah tahu bahwa pengelolaan sampah dengan sistem open dumping ini buruk. Sayangnya, pengetahuan itu belum diikuti dengan implementasi kebijakan di lapangan. Beberapa daerah malah menyebut TPA-nya sanitary landfill, tapi prakteknya tetap juga open dumping. Hingga kini, baru ada beberapa TPA dari ratusan TPA di Indonesia yang menerapkan teknologi sanitary landfill.

Berdasarkan UU No 18/2008 tentang Pengelolaan Persampahan, seluruh TPA dengan sistem open dumping di Indonesia harus ditutup dan dipindah atau direhabilitasi menjadi TPA yang sebenarnya, yakni sistem sanitary landfill pada 2013.

Menurut pasal 44 UU ini, pemerintah daerah harus membuat rencana penutupan tempat pemrosesan akhir sampah yang menggunakan sistem pembuangan terbuka paling lama satu tahun terhitung sejak berlakunya UU ini—tahun 2008. Artinya, seharusnya semua daerah telah memiliki rencana penutupan TPA open dumping pada 2009. Nyatanya, belum banyak yang menyusunnya.

Memang, ketentuan yang mengharuskan sekitar 460 TPA di Indonesia menggunakan sistem "sanitary landfill" pada 2013 cukup berat bagi pemerintah daerah. Ini karena  1 hektar TPA baru dengan sistem ini membutuhkan anggaran sampai sekitar Rp 5 miliar.

Namun demikian TPA dengan "sanitary landfill", memiliki banyak manfaat asalkan dibangun khusus dengan sistem "reusable", dapat digunakan lagi. Sementara jika menggunakan sistem open dumping, bahaya akan terus mengintai. Tidak hanya bagi manusia tapi juga bagi lingkungan. (emje)