Flash News
   
Ukuran Huruf
Bookmark and Share

Pilah Sampah Sanur, Contoh Swakelola Sampah Desa Adat

PDFPrintE-mail

Dua desa adat di kawasan Sanur, Denpasar, Sanur Kauh dan Sanur Kaja, bagus menjadi contoh dalam mendorong penguatan kesadaran sistem swakelola sampah organik dan anorganik. Warga kedua desa adapt ini memilah sampah organik dan anorganik. Sampah organik dikelola depo pengolahan sampah terpadu menjadi kompos. Sampah anorganik ditampung dan diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung. Sistem swakelola sampah rumah tangga semacam ini tepat jika diterapkan di kawasan perkotaan. Volume sampah rumah tangga lumayan besar yang diangkut ke TPA. “Selain sampah organic sampah anorganik juga banyak, seperti plastik maupun viberglass,” ujar pengamat lingkungan Ida Ayu Wulandari.


Padahal, menurut politisi Partai Demokrat Bali ini, sampah anorganik plastik maupun viberglass mengandung zat kimia yang tidak ramah lingkungan. ”Sampah plastik dalam bentuk kresek perlu waktu 60 tahun baru bisa hancur. Sampah plastik yang diolah berbentuk sachet memerlukan waktu 350 tahun. Padahal, tiap hari tumpukan sampah plastik menggunung di TPA, bertebaran di berbagai tempat permukiman warga. Beban tanah kian berat. Jika hancur pun racun zat kimianya  bisa merusak humus tanah,” ujarnya.

Sistem swakelola sampah terpadu di Desa Adat Sanur Kauh dan Sanur Kaja dinilai pantas dijadikan contoh bagus untuk mengatasi masalah serius limbah rumah tangga perkotaan.  ”Program pemberdayaan desa sadar lingkungan di Bali dapat melirik sistem swakelola sampah terpadu tersebut,” harapnya.

Kesadaran masyarakat mengolah sampah menjadi barang yang lebih berguna sudah dilakukan di Desa Sanur Kaja dan Sanur Kauh. Dengan penerapan 3R  (reuse, reduce, dan recycle), sampah dikelola agar menjadi berdaya guna. Pengolahan sampah swakelola ini  juga mengurangi jumlah sampah yang dikirim  ke TPA Suwung.

I Made Sunarta, pimpinan Depo Pengolahan Sampah Terpadu Cemara Sanur Kaja, mengatakan, 32 meterkubik atau 4 truk sampah dihasilkan masyarakat Desa Sanur Kaja per harinya. Sampah ini dipilah dan dibedakan yang organik dan anorganik.  “Sekitar 40% yang merupakan sampah organik yang dapat diolah menjadi kompos. Sebanyak 90% di antaranya sampah sisa sarana upacara seperti canang,” ujar pendiri LSM Lingkungan Wiguna Bali tahun 1989 ini.

Ia menuturkan, sampah organik ini diolah menjadi kompos dengan sistem fermentasi. “Setelah sampah dipilah kemudian difermentasikan dan diberi formula. Diamkan dua minggu dalam dua kali perpanjangan. Lakukan penyiraman dua hari sekali. Atur kelembaban suhu agar hasil fermentasi bagus dan seimbang. Lanjutkan proses penirisan untuk mengurangi kadar air. Proses berikutnya pencacahan, kemudian diayak dan siap digunakan,” papar  Kepala Dusun  Banjar Langon, Desa Sanur Kaja ini. 

Proses pengolahan sampah organik menjadi kompos ini memakan waktu sekitar tiga bulan. Kompos yang dihasilkan dijual Rp 1000 tiap kilogram. Kompos yang dihasilkan tiap bulan 5-20 ton.  
Sampah anorganik, tambahnya, harus  dipilah kembali. Potongan besi,  barang plastik, aluminium, kertas, kaleng, dan kaca dijual kepada pengepul barang rongsokan, dan residu yang tidak dapat diolah dibawa ke TPA Suwung oleh petugas DKP Kota Denpasar.

”Kami memiliki mesin pencacah plastik. Tetapi, kami tidak mau melakukannya di sini. Mencacah plastik sampai halnya membuat polusi udara. Kami menjualnya kepada pengepul. Saya dengar mereka mengirimnya ke Surabaya untuk diproses di Malaysia dan dikirim ke Cina,” tuturnya.  
Hasil penjualan kompos dan sampah anorganik  digunakan sebagai biaya operasional pegawai depo.
Kepala Desa Sanur Kaja Ida Bagus Paramartha, S.H. menjelaskan, prinsip 3R membuat orang memberdayakan sesuatu yang sudah tidak digunakan agar dapat digunakan kembali.

Reuse, menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama atau fungsi lainnya. Reduce, mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah. Recycle, mengolah kembali (daur ulang) sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat. Namun, dalam praktiknya, penerapan 3R memerlukan kesadaran tinggi seluruh masyarakat dan harus menjadi suatu budaya. "Untuk membudayakan sesuatu memerlukan waktu sangat lama, sedangkan sampah saat ini terus menumpuk," tuturnya.

Ia menyatakan, tiap hari pihaknya terus melakukan sosialisasi ke warga agar mereka makin sadar lingkungan.
Tiap warga di Desa Sanur Kaja dikenai biaya administrasi Rp 5000 sampai Rp 30.000. Hotel dikenai Rp 50.000 tiap 15 meterkubik. Ada 3 hotel yang ikut berpartisipasi.

Awalnya Ibu RT
Awalnya, pengolahan sampah swakelola ini dilakukan para ibu rumah tangga (RT) di Gang Mawar, Merpati, dan Nuri atas pembinaan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali tahun 2002. Melalui kegiatan arisan yang diadakan kelompok ibu-ibu di daerah tersebut, PPLH memberikan 100 pasang tong sampah kepada 100 kepala keluarga. Tong sampah tersebut terdiri atas dua warna, merah dan biru. Merah untuk sampah organik dan biru untuk sampah anorganik. Masing-masing keluarga diminta memilah sampah berdasarkan jenisnya. Sampah-sampah tersebut diangkut seorang petugas kebersihan yang ditunjuk guna dibawa ke depo yang berada di Gang Nuri.

Sesampainya di depo, sampah anorganik dipisahkan lagi berdasarkan bahan bakunya, seperti kaleng, kaca, plastik, kertas, dan logam. Sisanya berupa residu sampah dikirim ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Sedangkan sampah organik, diolah menjadi kompos. Kompos yang dibuat, dikembalikan kepada masyarakat. Mereka memanfatkan sebagai pupuk tanaman. Tahun 2006 dimohonkan tanah kepada Pemkot Denpasar untuk pembangunan depo Cemara.  Dengan lokasi sekitar 6 are di depan Gardu PLN Sanur, 6 karyawan mengolah sampah tiap hari.  Depo Cemara sangat tertata rapi dan sering dijadikan studi banding bagi siswa, mahasiswa, dan organisasi di Bali maupun luar Bali.

Strategi Sanur Kauh
Lain lagi strategi yang dilakukan Desa Sanur Kauh untuk perang melawan sampah. Kepala Desa Sanur Kauh I Made Dana mengatakan, saat ini ia sedang menggagas sistem sinergi pengolahan sampah dengan agribisnis perdesaan.  Rencana ini sudah disosialisasikan ke anggota subak yang ada di Sanur Kauh (14/7).  Saat ini ada dua  subak di Desa Sanur Kauh; subak Intaran Barat sebanyak 75 orang dan Timur sebanyak 4 orang.  ”Sampah yang ada di sekitar sawah atau sungai akan dipilah kemudian dibuatkan tempat fermentasi di pematang sawah (gundukan seperti kurungan ayam) dengan lebar sekitar 40 cm). Tiga bulan akan terbentuk kompos dan bisa digunakan langsung untuk memupuk tanaman semangka dan melon yang menjadi unggulan Desa Sanur Kauh,” tandasnya.

Volume sampah yang dihasilkan warga Desa Sanur Kauh sekitar 8 truk tiap hari. Desa ini memiliki truk dan supir untuk mengangkut sampah. Namun, sikap masyarakat yang masih belum sadar lingkungan menambah pekerjaan pegawai kebersihan. ”Mereka tidak mau memilah sampah di rumahnya. Semua sampah masuk dalam satu tong entah  itu organik atau anoganik,” tuturnya.

Warga dikenai Rp 10.000 tiap bulann untuk biaya administrasi. Namun, masih ada warga yang tidak ikut program ini, karena rumahnya masuk di gang sempit. ”Kami tidak bisa memaksa warga untuk membayar kontribusi pengambilan sampah karena rumah mereka tidak terjangkau mobil kebersihan desa. Mereka membuang sampah ke bak sampah yang tersedia  di pinggir jalan. Tetapi, mobil kebersihan desa tetap mengambil sampah yang berada di bak sampah di pinggir jalan itu,” kata Dana.

Saat ini, belum ada manajer khusus yang menangani depo Palasari milik Desa Sanur Kauh. Semua pekerjaan masih ditangani Kantor Desa. Dengan sistem bekerja sama dengan anggota subak, ia yakin sistem penanganan sampah akan lebih tertata dengan baik.