Flash News
   
Ukuran Huruf
Bookmark and Share

Berita

Sampah Baterai, Kecil tapi Berbahaya

Wednesday, 01 September 2010 10:43

bateraiHampir setiap keluarga menggunakan baterai untuk keperluan peralatan elektronik, apakah itu kamera, remote, radio, walkman, lampu senter, laptop, jam tangan, dan lainnya. Kebanyakan baterai-baterai tersebut sekali pakai. Jarang orang menggunakan baterai isi ulang. Maka, begitu baterai habis, pasti langsung dibuang.

Di beberapa tempat, baterai bekas ini sering dimanfaatkan oleh masyarakat misalnya sebagai pupuk, semir ban mobil, cat hitam, bahan tukang kayu, kerajinan tangan, campuran plester semen, bahkan mainan anak-anak.

Namun tahukah Anda bahwa baterai yang bentuknya kecil itu sangat berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan? Baterai bekas mengandung bahan berbahaya beracun (B3). Di dalamnya ada logam berat antara lain merkuri (Hg), kadmium (Cd), Lithium (Li).

Merkuri bisa masuk ke manusia bersama air, hewan/ikan yang tercemar, dan sebagai uap. Bagi tubuh manusia, ancaman merkuri dapat menyerang sistem syaraf pusat, ginjal, hati, jaringan otak, serta dapat membahayakan kandungan yang berakibat bayi cacat lahir.

Sedangkan, kadmium tak kalah bahayanya dengan merkuri. Kadmium bisa terakumulasi terutama pada hati dan ginjal. Efek keracunan akut adalah gangguan pada saluran cerna. Sedangkan efek kronik, setelah paparan kadmium jangka panjang, terutama gangguan fungsi ginjal.

Lithium tak kalah berbahayanya. Satu karakter unsur ini tidak stabil atau terlihat reaksi detonasi, bereaksi terhadap air, desain atau strukturnya berpotensi menyerap air, ketika dicampur air, menghasilkan gas beracun atau asap yang kuantitasnya membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan, mengandung sianida atau sulfida yang pada PH antara 2 – 12,5 dapat menghasilkan gas atau asap beracun, berpotensi meledak jika berada pada tekanan tinggi, berpotensi meledak jika diurai pada tekanan dan suhu kamar.

Jangan Buang Sembarangan

Sampah baterai bila tidak dikelola dengan baik akan menjadi pencemar. Logam berat yang ada di dalamnya bisa merembes ke dalam tanah dan bercampur dengan air. Logam ini bisa berpindah ke manusia melalui tanaman atau air yang tercemar.

Karenanya, di beberapa negara maju, ada larangan membuang sampah baterai ini. Negara telah menyediakan khusus tempat sampah bagi baterai dan beberapa logam berat lainnya. Hanya saja, di Indonesia pemerintah belum mengambil langkah ini.

Namun ada kesadaran sejumlah masyarakat untuk mengumpulkannya. Di kota-kota besar ada LSM dan individual yang secara sukarela mengumpulkan sampah baterai ini. Hanya jumlahnya sangat terbatas jika dibandingkan dengan konsumsi baterai yang ada di Indonesia.

Karenanya, Anda bisa menjadi sukarelawan untuk menyelamatkan manusia dari bahaya sampah beterai ini. Baterai yang terkumpul nantinya bisa diserahkan ke tempat pengolahan limbah B3 yang kini ada di kota-kota besar. Pemerintah daerah pun seharusnya bisa menyediakan tempat pengumpulan sampah baterai ini. Toh, masyarakat sebenarnya mau jika ada fasilitasi.

Bersamaan dengan itu, kita perlu terus mendorong produksi baterai dengan kadar merkuri rendah seperti yang banyak dilakukan oleh negara-negara maju. Selain itu, kita perlu mengubah perilaku penggunaan baterai. Biasakan menggunakan baterai isi ulang. Meskipun harganya mahal, baterai semacam ini jauh lebih hemat secara ekonomis. Dan yang paling penting, dengan mengisi ulang baterai berarti mengurangi limbah yang dapat mencemari lingkungan kita. MJ


 

Page 1 of 49